Akhlak merupakan bagian penting dalam ajaran Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, akhlak menjadi landasan untuk membangun hubungan yang harmonis, menumbuhkan sikap saling menghormati, serta mencegah munculnya perselisihan akibat perilaku yang buruk.
KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, memberikan perhatian besar terhadap pentingnya adab dalam kehidupan seorang Muslim melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim. Kitab ini membahas etika orang yang berilmu, pengajar, dan pelajar, mulai dari pembentukan akhlak pribadi hingga hubungan antara guru, murid, dan ilmu pengetahuan.
Meskipun kitab tersebut berfokus pada pendidikan dan hubungan dalam proses menuntut ilmu, nilai-nilai akhlak yang dibahas di dalamnya juga relevan untuk kehidupan sosial. Seseorang yang memiliki ilmu semestinya tidak hanya menunjukkan kecerdasan dalam berpikir, tetapi juga mampu menjaga perilaku, menghormati orang lain, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
1. Membersihkan Hati dari Akhlak Tercela
Salah satu prinsip penting dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim adalah keharusan bagi penuntut ilmu untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya menjauhkan diri dari penyakit hati, seperti dengki, iri hati, tipu daya, dan akhlak buruk lainnya, agar seseorang dapat menerima ilmu dengan baik.
Prinsip ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial. Banyak perselisihan di tengah masyarakat berawal dari hati yang dipenuhi prasangka buruk, rasa iri, keinginan menjatuhkan orang lain, atau ketidakmampuan menerima kelebihan sesama.
Seseorang yang menjaga kebersihan hatinya akan berusaha menghargai keberhasilan orang lain, tidak mudah menaruh curiga, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan. Ia juga akan lebih berhati-hati dalam menilai perilaku orang lain karena menyadari bahwa tidak semua perkara diketahui secara menyeluruh.
Oleh karena itu, memperbaiki hubungan sosial tidak cukup dilakukan melalui aturan dan teguran dari luar. Perbaikan tersebut juga harus dimulai dari pembenahan hati dan pengendalian diri.
2. Menjaga Kerendahan Hati dan Menghindari Kesombongan
Ilmu seharusnya menjadikan seseorang semakin mengenal keterbatasan dirinya, bukan merasa lebih tinggi daripada orang lain. Orang yang benar-benar memahami nilai ilmu akan menyadari bahwa masih banyak perkara yang belum diketahuinya.
Dalam kehidupan masyarakat, sikap rendah hati tercermin melalui kesediaan mendengarkan pendapat orang lain, menghargai pengalaman sesama, serta tidak merendahkan seseorang hanya karena perbedaan pendidikan, pekerjaan, kedudukan, atau kemampuan ekonomi.
Orang yang berilmu juga tidak semestinya menggunakan pengetahuannya untuk mempermalukan orang lain. Sebaliknya, ilmu hendaknya menjadi sarana untuk menjelaskan persoalan, memberikan bimbingan, dan membantu masyarakat memahami kebenaran dengan cara yang baik.
Kerendahan hati bukan berarti menghilangkan ketegasan dalam mempertahankan prinsip. Seseorang tetap dapat menyampaikan pendapat dengan kuat, tetapi harus menghindari penghinaan, kesombongan, dan sikap merasa dirinya selalu paling benar.
Nilai ini merupakan penerapan sosial dari pendidikan adab yang ditekankan dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim: ilmu dan perilaku harus berjalan bersama agar pengetahuan melahirkan kemanfaatan, bukan kesombongan.
3. Menghormati Orang Lain dan Menjaga Etika Pergaulan
Kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim memberikan perhatian terhadap adab dalam hubungan antara pelajar dan guru, termasuk penghormatan kepada orang yang mengajarkan ilmu. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia perlu dibangun berdasarkan etika, penghargaan, dan tanggung jawab.
Dalam kehidupan bermasyarakat, penghormatan tidak hanya diberikan kepada guru atau orang yang memiliki kedudukan tinggi. Setiap orang patut diperlakukan dengan baik tanpa memandang status sosialnya.
Sikap menghormati orang lain dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan sederhana, seperti berbicara dengan sopan, mendengarkan ketika orang lain menyampaikan pendapat, tidak memotong pembicaraan secara kasar, serta menghindari perkataan yang menyakiti perasaan.
Menghormati orang lain juga berarti menyadari bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga. Perbedaan pendapat tidak membenarkan seseorang untuk menghina, mencela, atau mempermalukan orang lain di hadapan masyarakat.
Dengan demikian, adab yang dipelajari dalam lingkungan pendidikan dapat menjadi dasar bagi terbentuknya hubungan sosial yang santun dan saling menghargai.
4. Menjaga Lisan dan Menghindari Perilaku yang Merusak Hubungan Sosial
Lisan memiliki peranan besar dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui perkataan, seseorang dapat memberikan nasihat, mendamaikan perselisihan, dan menyampaikan kebenaran. Namun, perkataan juga dapat menimbulkan permusuhan apabila digunakan untuk menghina, memfitnah, menggunjing, atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Pendidikan akhlak dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim menekankan pentingnya pembentukan karakter yang baik pada diri penuntut ilmu dan pengajar. Prinsip tersebut relevan untuk membentuk kebiasaan berbicara secara bertanggung jawab, terutama ketika seseorang menggunakan ilmu dan pengetahuannya untuk memengaruhi orang lain.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjaga kehormatan sesamanya. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hal ini dapat diterapkan dengan tidak mudah menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, tidak membuka aib orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, dan tidak menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan ejekan.
Prinsip ini juga berlaku dalam penggunaan media sosial. Sebelum membagikan suatu informasi atau memberikan komentar, seseorang hendaknya mempertimbangkan kebenaran informasi tersebut serta dampaknya terhadap orang lain.
Menjaga lisan dan tulisan merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Seseorang tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya secara langsung, tetapi juga atas perkataan dan informasi yang disebarkannya kepada masyarakat.
5. Mengamalkan Ilmu untuk Kemanfaatan Masyarakat
Ilmu tidak semestinya berhenti pada penguasaan teori atau kemampuan menjelaskan suatu persoalan. Ilmu juga perlu diwujudkan dalam tindakan yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim menempatkan adab sebagai bagian penting dalam proses memperoleh dan mengajarkan ilmu. Pengetahuan yang disertai akhlak diharapkan membentuk pribadi yang mampu menjalankan tanggung jawabnya sebagai penuntut ilmu maupun pengajar.
Dalam kehidupan sosial, pengamalan ilmu dapat dilakukan dengan membantu orang yang mengalami kesulitan, memberikan penjelasan kepada masyarakat sesuai kemampuan, mengajarkan pengetahuan yang bermanfaat, serta berpartisipasi dalam kegiatan yang membawa kebaikan bersama.
Seorang yang memahami ilmu agama, misalnya, hendaknya berusaha menyampaikan ajaran agama dengan bijaksana dan memperhatikan keadaan orang yang diajak berbicara. Ia tidak sepatutnya menjadikan pengetahuan agama sebagai alat untuk merendahkan orang lain atau mencari pengakuan.
Demikian pula, orang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dapat memanfaatkan kemampuannya untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
Dengan demikian, keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan tersebut membentuk akhlak dan menghasilkan kemanfaatan.
6. Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Masyarakat terdiri atas individu dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, pemahaman, dan kepentingan yang beragam. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak selalu dapat dihilangkan.
Dalam menghadapi perbedaan, seseorang perlu memiliki kedewasaan akhlak agar tidak mudah terjerumus ke dalam pertengkaran dan permusuhan. Ia harus mampu membedakan antara perbedaan pendapat yang wajar dan perilaku yang benar-benar merusak hubungan sosial.
Nilai-nilai adab dalam Adabul ‘Alim wal Muta‘allim dapat dijadikan landasan untuk membangun sikap saling menghormati. Orang yang terbiasa menghargai guru, teman belajar, dan ilmu yang dipelajarinya semestinya juga belajar menghargai orang lain dalam kehidupan masyarakat.
Menghargai perbedaan bukan berarti membenarkan semua pendapat. Seseorang tetap dapat mempertahankan keyakinan dan menyampaikan kritik, tetapi harus melakukannya dengan cara yang santun, argumentatif, dan tidak merendahkan martabat orang lain.
Sikap tersebut penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi permusuhan yang berkepanjangan. Masyarakat yang baik bukanlah masyarakat yang tidak memiliki perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan dengan akhlak dan tanggung jawab.
7. Menjadi Teladan dalam Kehidupan Bermasyarakat
Salah satu ukuran keberhasilan pendidikan akhlak adalah perubahan perilaku seseorang dalam kehidupan nyata. Ilmu yang dipelajari semestinya tampak dalam kejujuran, kedisiplinan, kesopanan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks kehidupan sosial, seseorang tidak cukup hanya memberikan nasihat tentang kebaikan. Ia juga perlu berusaha menjalankan nasihat tersebut dalam perilakunya sendiri.
Orang yang mengajarkan kejujuran, misalnya, harus berusaha menghindari kebohongan. Orang yang menyerukan persaudaraan hendaknya tidak mudah menyebarkan permusuhan. Demikian pula, seseorang yang mengajarkan pentingnya menghormati orang lain harus menunjukkan sikap hormat dalam pergaulan sehari-hari.
Keteladanan memiliki pengaruh penting karena masyarakat tidak hanya belajar melalui perkataan, tetapi juga melalui perilaku yang mereka saksikan.
Nilai pendidikan adab yang dibahas KH. Hasyim Asy’ari dapat menjadi pengingat bahwa pembentukan pribadi berilmu harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Dengan demikian, orang yang berilmu diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi bagi persoalan masyarakat, bukan justru menambah perpecahan.
Kesimpulan
Akhlak sosial merupakan bagian penting dari pembentukan pribadi Muslim yang berilmu dan beradab. Melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim, KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya pembinaan akhlak dalam diri penuntut ilmu dan pengajar. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat melalui upaya membersihkan hati dari sifat tercela, menghindari kesombongan, menghormati sesama, menjaga lisan, mengamalkan ilmu, menghargai perbedaan, dan memberikan teladan yang baik.
Meskipun kitab ini secara khusus membahas adab dalam dunia pendidikan, prinsip-prinsipnya memiliki relevansi yang luas dalam kehidupan sosial. Hal ini karena akhlak tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang belajar atau mengajar, tetapi juga ketika ia berinteraksi dengan keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat secara umum.
Pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat hendaknya melahirkan perilaku yang baik. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga akhlak dan memberikan manfaat kepada sesama.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
.png)
.png)
Silakan sampaikan pertanyaan, tanggapan, atau tambahan ilmu dengan bahasa yang baik dan santun.